Bagi kalian yang suka bergelut di aktivitas penulisan fiksi seperti cerpen, puisi, pantun, roman, dan novel pasti tidak asing dengan istilah sastra bukan?
Nah kali ini kita akan membahas jenis sastra yang mungkin masih jarang di dengar, namun ketika kalian mendengar, pasti akan tertarik. Terutama kalangan yang peduli dengan lingkungan, dalam hal ini lingkungan alam.
Sastra Hijau atau Green Literature
Sastra ini pertama di cetuskan di kalangan akademisi oleh William Rueckert tahun 1978 dalam tulisannya berjudul Literature and Ecology: An Experiment in Ecocriticism, dimuat di Iowa Review Volume 9 Tahun I di halaman 71-86. Hasil karyanya cukup menarik sehingga banyak mengundang pro dan kontra berdasarkan sudut pandang pada masa itu. Ecocriticism sendiri pada akhirnya diakui dan memberi inspirasi banyak orang, khususnya di AS dan Inggris menulis bertopik dan bertema penyelamatan bumi. Yang kemudian seiring berjalannya waktu, sastra hijau turut berkembang di beberapa negara, seperti Brazil, Australia, Amerika Serikat dan Inggris.
Di Indonesia sendiri satra hijau mulai berkembang pada tahun 80 an oleh penyair-penyair Indonesia seperti Sastrawan Ahmad Tohari yang telah memulai karya-karyanya antara lain adalah cerpennya berjudul Paman Doblo Merobek Layang-Layang. Penyair Ahmadun Yosi Herfanda menulis puluhan puisi ‘hijau’ yang ia bukukan dengan judul Ladang Hijau .
Perkembangan sastra hijau di Indonesia tidak berhenti di situ saja sebagai wujud kecintaan alam dan keprihatinan akan kerusakan hutan .
Pegiat sastra hijau asal Indonesia lainnya yang masih getol mengkapanyekan sastra hijau hingga saat ini salah satunya adalah Naning Paranoto, founder dari Rayakultura.net .
Bentuk Sastra Hijau
Bentuk penulisan sastra hijau sebenarnya tidak jauh berbeda. Kita bisa mengemasnya dalam bentuk puisi, pantun, cerpen, roman, atau bahkan novel. Bedanya,pelakunya tidak harus manusia. Semua benda, unsur-unsur semesta atau makluk hidup yang ada di atas bumi bisa dijadikan tokoh. Seperti, air, angin, tumbuhan, pohon, bunga tanaman. Kesemuanya menjadi tokoh sebagaimana manusia.
Referensi :
Perkembangan sastra hijau di Indonesia tidak berhenti di situ saja sebagai wujud kecintaan alam dan keprihatinan akan kerusakan hutan .
Pegiat sastra hijau asal Indonesia lainnya yang masih getol mengkapanyekan sastra hijau hingga saat ini salah satunya adalah Naning Paranoto, founder dari Rayakultura.net .
Bentuk Sastra Hijau
Bentuk penulisan sastra hijau sebenarnya tidak jauh berbeda. Kita bisa mengemasnya dalam bentuk puisi, pantun, cerpen, roman, atau bahkan novel. Bedanya,pelakunya tidak harus manusia. Semua benda, unsur-unsur semesta atau makluk hidup yang ada di atas bumi bisa dijadikan tokoh. Seperti, air, angin, tumbuhan, pohon, bunga tanaman. Kesemuanya menjadi tokoh sebagaimana manusia.
Referensi :
https://rayakultura.net/

