Tak Kantongi Restui Pelatih, Tunggal Putri Indonesia Gagal Ikuti Piala Uber




Ajang terbesar dunia perbulutangkisan kembali bergulir, sebanyak 16 tim dipastikan bertanding memperebutkan gelar juara dalam ajang bergengsi ini. Indonesia yang mulai mengibarkan sayapnya di ajang ini sejak tahun 1956 dan 1984 - masing-masing pada piala Uber dan piala Thomas- memiliki target tinggi pada ajang kali ini.
Menuju Piala Thomas dan Piala Uber bulan Mei mendatang, PBSI menurunkan beberapa atlet di Kejuaraan Asia yang akan berlangsung di Wuhan, China, 24-29 April. Tapi tidak termasuk Fitriani. Namanya memang tidak  sepopuler atlet putri yang lain. Fitriani menjadi pusat perhatian di GOR Lila Bhuana, Denpasar pada 25 Januari. Kala itu, dia membuat kejutan dengan mengalahkan Firda--sapaan karib Adriyanti Firdasari--, pemain berpengalaman dan pernah jadi nomor satu nasional yang memperkuat Jaya Raya Jakarta, dengan skor 13-21, 12-21 pada laga perdana babak penyisihan Grup C Djarum Badminton Superliga 2015.
Menyoroti persiapan tim atlet putri Indonesia Fitriani, Pelatih Tunggal Putri Minarti Timur rupanya memiliki rencana lain untuknya. Pemain berperingkat 32 dunia itu akan diturunkan ke turnamen di Selandia Baru, yang berlangsung 1-6 Mei. Karena tak direstui pelatih, Ia pun gagal maju ke ajang Uber cup tahun ini.
Kini, Fitri tengah menjajaki kariernya sebagai seorang pebulutangkis profesional. Meski tahun ini kesempatan untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia melalui ajang Thomas-Uber Cup 2018. Dia  menyimpan mimpi besar tak sekadar menjadi atlet pelatnas, dia juga bercita-cita untuk menjadi juara dunia.

"Cita-cita saya dari dulu ingin masuk pelatnas. Dan, jika Allah mengijinkan saya ingin menjadi Juara Dunia," sahutnya mantap.

Sumber :  sport.detik.com


close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==