Lembaga survei Media Nasional atau biasa disebut Media
melakukan sebuah riset yang menyatakan bahwa Prabowo Subianto hanya mendapatkan
perolehan elektabilitas sebanyak 20,4 persen dibandingan Joko Widodo yang mendapatkan
36,2 persen. Itu artinya Jokowi mengungguli Prabowo Subianto. Bahkan dalam satu
kesempatan, Sudarto selaku direktur riset Media menjelaskan bahwa mayoritas
warga menolak Jokowi memimpin Indonesia kembali walaupun posisi Jokowi berada
di posisi teratas dalam survei. Sebanyak 63,8 persen masyarakat belum
mengeluarkan atau memantapkan keinginannya untuk kembali memiliki Joko Widodo. Sedangkan
sebanyak 46,3 persen masyarakat ingin ganti presiden dan asalkan bukan Joko
Widodo presidennya. Yaitu pada tahun 2019. Sudarto kembali menambahkan
tuturnya, bahwa masyarakat sebanyak 45,2 persen masih tetap ingin
mempertahankan presiden Joko Widodo.
Banyak hal yang menjadi ganjalan di benak masyarakat
selama ini. Berkaitan dengan infrastruktur memang pada masa pemerintahan Joko
Widodo sebagai presiden negeri ini, kualitasnya sudah naik. Tapi tentu saja
masih banyak masyarakat beranggapan bahwa Jokowi masih kurang dalam mengurusi
rakyatnya. Pasalnya ketika masyarakat menonton berita di televisi soal kinerja
Jokowi terkait infrastruktur, seakan terlihat begitu baik. Namun pada
kenyataannya masyarakat yang menonton televise masih merasa infrastruktur di
daerahnya masih begitu minim diperhatikan oleh Jokowi. Dalam survei yang
dilakukan oleh lembaga survei Median ini, populasinya merupakan semua warga
pemegang hak pilih, sebanyak 1.200 responden (margin of error) sebanyak 2,9
persen, dan dilakukan dengan tingkat kepercayaan sebanyak 95 persen.
Berkaitan dengan banyaknya simpang siur terkait Joko
Widodo, hak pilih tetaplah hak. Maka setiap warga negara Indonesia tetap berhak
memilih sesuai keinginannya tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Kalau saya
sih siapapun presidennya, yang penting memikirkan nasib rakyatnya dan saya
masih tetap lancar untuk berkarya. Yang penting tetap cinta damai hehehehe

