Penyimpangan Ajaran Berkedok
Pengajian
Ajakan
salat lima waktu selalu ditolak. Azis merasa itu bukan kewajiban sebagai
seorang muslim. Percaya dengan keyakinannya. Apalagi setelah gabung menjadi
bagian Negara Islam Indonesia (NII). Ajaran itu sangat kuat. Semua anggota
kelompoknya tunduk. Menjalani pelbagai perintah lainnya.
"Pokoknya setelah itu saya sama sekali
enggak pernah solat lagi," cerita Azis kepada merdeka.com Jumat pekan
lalu. Menolak salat itu semenjak resmi berbaiat dengan NII.
Bukan impian Azis bergabung
dalam kelompok dicap radikal ini. Mantan mahasiswa di sebuah kampus Islam
negeri di bilangan Ciputat ini, akhirnya terjebak. Masuk dalam kelompok dengan
status sebagai seorang mahasiswa. Masih muda. Dengan segudang pemikiran dari
bangku kuliahan.
Tepatnya bulan Mei tahun
2012. Azis ingat betul pertemuannya dengan Suyono anggota kelompok NII di
masjid kampus. Bukan untuk bergabung menjadi bagian NII. Melainkan hanya untuk
mendapatkan referensi bahan diskusi di BEM Fakultasnya. Sebab dia merasa kurang
puas dari berbagai buku telah dibaca.
Pengajian berlangsung di
kawasan Bintaro. Azis pun masuk perangkap. Merasa seperti dihipnotis. Dirinya
tunduk dan mengikuti segala permintaan. Sampai akhirnya dibaiat. Lalu resmi
menjadi anggota NII untuk wilayah Banten. Dia merasakan betul kondisi itu.
Perlahan Azis mulai menarik diri dari lingkungannya. Sampai bolos jam
perkuliahan. Lebih sering mengikuti kegiatan pengajian dan kajian. Guna
memperkuat keyakinannya kala itu. Tak hanya masjid sebagai tempat berkumpul
kelompok NII. Lapangan futsal pun bisa diubah menjadi sebuah tempat kajian.
.
Ada pula memasukkan uang
sedekah ke dalam kantong uang. Sebagian anggota bahkan hanya membiarkan uang
tersebut tanpa tempat. Untuk jumlahnya tidak kecil. Bisa mencapai sampai jutaan
tiap pertemuan. Jangan heran, kata Azis, banyak jemaah NII masuk dalam kelas
menengah. Misalnya, kata Azis, kelompoknya itu dipimpin seorang Wali Kota dari
kelompoknya. Meski notabene Ciputat tercatat sebagai kecamatan. Namun,
pandangan itu beda. Kelompok terlarang ini tetap mencatat Ciputat perlu
dipimpin sekelas bupati/wali kota.
Untuk penunjukan wali kota
tak melalui sistem demokrasi atau musyawarah mufakat. Melainkan berdasarkan
penunjukan dari jabatan lebih tinggi di atasnya. Selain pembagian wilayah
administratif, anggota NII digiring untuk mengganti ideologi negara pancasila
dengan ideologi berdasarkan ajaran islam diyakini kelompoknya.
Berbagai kejanggalan itu
telah dirasakan Azis sejak triwulan pertama. Berbagai ajaran NII tak sejalan
dengan hati nuraninya. Namun, seperti terhipnotis, Azis tak bisa keluar dari
belenggu yang membuatnya sulit kembali.
Selepas dari jeratan
kelompok itu, Azis kini sudah bertobat. Kembali di jalan sesuai ajaran agama
dan ideologi negara. Termasuk menjadi pengusaha ternak lele. Di samping itu
dirinya juga kerap dipanggil sebagai penceramah di banyak wilayah.
Banyaknya ancaman pemahaman
ideologi terlarang ini sempat menjadi perhatian Alvara Research Center. Mereka
bahkan sampai membuat riset tentang 'Radicalisme Among Educate People?'.
Melibatkan kalangan terdidik. Mulai dari pelajar SMA/sederajat, mahasiswa dan
profesional.
Survei ini dilakukan
Oktober tahun 2017 ini melibatkan 1.200 responden kalangan profesional. Di
kalangan mahasiswa, peneliti melibatkan 1.800 responden dan 2.400 responden
berstatus pelajar setingkat SMA. Semua dilakukan di enam kota besar. Hadirnya risen ini dianggap mampu mengukur dan
memetakan seberapa luas paham radikalisme telah
berkembang di kalangan terdidik. Hal ini sebagai bentuk pengingat adanya dugaan
radikalisme di kalangan terdidik. Hasilnya, ajaran intoleransi dan radikal
telah masuk di kalangan terdidik.
Pelbagai ajaran intoleransi
anti Pancasila dan NKRI masuk melalui kajian keagamaan dan kegiatan keagamaan
di sekolah. Sebab kelompok intoleran semakin mendominasi banyak kajian di
berbagai tempat. Mulai dari tempat kerja, lembaga dakwah kampus dan kegiatan
keagamaan di sekolah.
Untuk itu, antisipasi dan
penanggulangan perlu dilakukan sejak dini. Sebab pemahamam radikal terbagi
menjadi beberapa fase. Soft fase hingga hard fase. Mengembalikan mereka yang
masuk kategori soft lebih mudah. Namun program deradikalisai yang ada saat ini
harus menggunakan berbagai cara kreatif. Salah satunya dengan menawarkan
beberapa pemikiran lebih moderat kepada mereka yang ada di kategori ini.
