Nama
tiwul identik dengan kemiskinan dan kelaparan. Tapi jajanan ndeso berbahan
singkong ini masih jadi favorit banyak orang.
Mendengar
tiwul mungkin Anda langsung terbayang buliran-buliran singkong kasar warna
cokelat dengan rasa manis gula merah. Tapi tiwul yang sebenarnya terasa hambar.
Ini karena tiwul dijadikan makanan pokok pengganti nasi.
Singkong
lalu diolah jadi tiwul dan dijadikan panganan utama. Cara membuat tiwul
tidaklah sulit. Singkong dikupas, dibersihkan kemudian dijemur hingga kering.
Singkong
kering ini disebut gaplek. Gaplek lalu ditumbuk hingga halus, diberi sedikit
air, kemudian dikukus hingga berwarna kecoklatan. Teksturnya berbulir
menyerupai nasi. Enak dimakan dengan sayur lombok ijo pedas, tempe dan tahu
goreng.
Untuk
versi manisnya, tiwul ditambahkan gula merah dan daun pandan. Makin enak
dinikmati dengan kelapa parut yang rasanya gurih. Tiwul versi manis bisa
didapat di penjual jajanan pasar. Ada yang masih menjajakannya dengan gendongan
ataupun gerobak.
Tiwul termasuk makanan yang sangat bersejarah karena sudah ada
sejak zaman dahulu. Menurut sejarahnya, pada zaman penjajahan dulu makanan ini
dijadikan makanan pokok bagi masyarakat dan dimakan bersama lauk pauk serta
sayuran. Setelah jaman penjajahan, makanan ini masih tetap berfungsi sebagai makanan
pokok apabila stok beras habis sebelum masa panen.
Saat ini, makanan tiwul menjadi
makanan yang mewah, selain harganya mahal, juga banyak diburu wisatawan. Masyarakat
juga beralih mengkonsumsi beras untuk makanan utama. Pada saat Lebaran, tiwul
menjadi suguhan yang mewah di setiap rumah, khususnya di wilayah pelosok.

