Ini Nih Kemungkinan Penyebab Sakit Setelah Lebaran
Selamat
siang semuanya. Gimana nih lebaran teman-teman semua? Pastinya menyenangkan
bukan? Oh iya, mumpung masih dimomen-momen lebaran nih, saya mau mengucapkan
taqaballahu minna wa minkum. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan
batin ya.
Ngga
kerasa ya libur lebaran udah kelewat aja. Pastinya temen-temen semua harus
kembali lagi ya ke rutinitas meskipun masih lelah dan mager. Terkadang rasa
lelah yang timbul setelah momen-momen lebaran menjadikan risiko kita jatuh
sakit menjadi lebih besar. Setelah menjalani ibadah puasa selama 30 hari, pola
makan dan tidur yang berubah membuat stamina menurun. Karena persiapan
menjelang Lebaran yang cukup heboh, mulai dari persiapan mudik, perjalanan
mudik yang panjang, hingga acara silaturahmi yang cukup panjang, kita pun jadi
kurang istirahat.
Menurut
Dr. Fiastuti Witjaksono, MSc. MS. SpGK, pola makan kita saat Ramadan sendiri
sudah memupuk masalah kesehatan. Asyik mengonsumsi makanan bersantan penuh
lemak saat Lebaran makin memperparah keadaan. “Bangun tidur pada dini hari,
pola tidur yang terganggu, dan pola makan yang berubah meningkatkan risiko
tubuh terkena infeksi. Sayangnya, saat Lebaran kita sering lupa makan sayuran
dan buah. Padahal, kita harus makan dengan nutrisi lengkap agar stamina tubuh
tetap terjaga,” jelasnya.
Dengan
mengonsumsi buah-buahan, tubuh kita akan mendapat asupan vitamin C yang
berperan penting dalam menjaga stamina tubuh. “Vitamin C berguna mencegah
infeksi, menjaga mood, dan mencegah proses oksidasi yang bisa merusak sel-sel
tubuh,” ujarnya.
Untuk
itu, demi mengembalikan stamina dan kesehatan tubuh setelah Lebaran, dokter
Fiastuti menyarankan kita untuk segera memperbaiki pola makan. “Menjaga
kesehatan itu nomor satu dari apa yang kita makan. Pertama, perhatikan asupan
vitamin C untuk tubuh. Vitamin C ini penting untuk meningkatkan sistem imunitas
tubuh dan membantu proses pemulihan tubuh. Tidak perlu mengonsumsi suplemen
vitamin C. Cukup makan buah-buahan yang mengandung vitamin C tinggi, seperti
kiwi, nanas, atau jeruk, dua porsi sehari,” jelasnya.
Setiap
hari, dalam keadaan sehat, tubuh kita sebenarnya membutuhkan vitamin C 40-60
mg. Vitamin C sendiri merupakan jenis vitamin yang bersifat larut dalam air.
Jadi, jika terdapat kelebihan vitamin C, tubuh secara alami akan membuangnya
melalui urine. Vitami C dari buah lebih baik daripada suplemen karena diserap
bertahap oleh tubuh, sehingga bertahan lebih lama.
Selain
itu, jangan sepelekan masalah tidur. Karena, saat kita tidur, tubuh melakukan
proses regenerasi sel-sel tubuh yang rusak. Meski menganjurkan untuk tidur 6
hingga 8 jam setiap malam, dokter Fiastuti menekankan bahwa kualitas juga tak
kalah krusial dibandingkan kuantitasnya. “Jika kita tidurnya tidak nyenyak,
proses regenerasi sel-sel tubuh tidak akan maksimal. Ketika bangun, kita pun
tidak akan merasa segar,” ujarnya.
Untuk
itu, ia menyarankan agar tidur dalam keadaan gelap. Jangan menyalakan lampu,
sekecil apa pun cahayanya. Karena, dalam keadaan gelap, otak kita akan
memproduksi hormon melatonin yang membantu kita untuk tidur lebih nyenyak.
Dampak
dari makan serampangan saat Ramadan dan Lebaran juga dirasakan oleh Zita
Reyninta Sari (25), freelancer. Merasa sudah mengurangi makan karena berpuasa
selama sebulan penuh, ia asyik saja makan aneka hidangan Lebaran dan kue-kue
kering, bahkan nambah hingga lebih dari 10 kali. Tak hanya berat badan yang
meningkat hingga 5 kilogram, selama libur Lebaran ia juga merasa jantungnya
berdebar lebih kencang.
Meski
merasa ada yang tak beres pada tubuhnya, Zita tak segera memperbaiki pola
makannya usai libur Lebaran. “Ah, nanti saja,” begitu pikirnya. Hingga suatu
hari, ia sering merasa terengah-engah. Ia juga lebih sering merasa jantungnya
berdebar-debar. Belum lagi, bentuk tubuhnya juga makin melar.
Menurut
dr. Fiastuti, sebetulnya tubuh memiliki organ hati yang secara alami berfungsi
mendetoksifikasi tubuh dari zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Tapi, jika
kita terus-menerus makan makanan berlemak, kerja hati akan makin berat. Makanan bersantan yang kerap
disajikan saat Lebaran mengandung lemak tinggi. Konsumsi lemak yang tinggi
berisiko meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, tekanan darah, dan juga
kadar gula dalam darah.
Untuk
itu, detoksifikasi tubuh penting dilakukan setelah Lebaran, jika kita tak ingin
kesenangan pada saat hari raya berujung pada penyakit yang serius. Dokter
Fiastuti menyarankan, detoksifikasinya cukup dengan memperbaiki pola makan dan
memperbanyak konsumsi sayuran dan buah. “Sayur-sayuran membantu menjaga
kesehatan saluran cerna, mencegah konstipasi, serta menjaga kadar lemak dan
glukosa tubuh,” papar dokter Fiastuti yang menyarankan mengonsumsi sayur-sayuran
2-3 porsi sehari.
Konsumsi
buah dan sayur juga membantu penyerapan nutrisi-nutrisi dalam makanan, seperti
protein dan kalsium, lebih optimal. Tak hanya itu, buah dan sayur mengandung
kadar indeks glikemik yang rendah. “Makanan dengan indeks glikemik yang rendah
membuat kita kenyang lebih lama dan kadar gula darah tetap stabil,” lanjut
dokter Fiastuti. (f)
Sumber :

